Zoho Books untuk Bisnis Indonesia: PPN, Coretax dan Hal yang Perlu Dicek
Zoho Books dipakai bisnis di banyak negara, termasuk Indonesia. Tetapi pajak Indonesia punya aturan sendiri. Ini hal yang perlu Anda pahami agar pembukuan di Zoho Books tetap selaras dengan pelaporan pajak.
Gambaran singkat aturan PPN sejak 2025
Sejak 1 Januari 2025, tarif PPN menjadi 12%. Berdasarkan PMK 131 Tahun 2024, untuk barang dan jasa yang bukan barang mewah, dasar pengenaan pajak memakai DPP nilai lain sebesar 11/12 dari harga jual atau penggantian. Hasil akhirnya, PPN yang dibayar setara 11% dari harga untuk sebagian besar transaksi.
Pada saat yang sama, Direktorat Jenderal Pajak memindahkan penerbitan faktur pajak ke Coretax. Menurut DJP, faktur pajak dengan DPP nilai lain umumnya memakai kode transaksi 04. Penyerahan kepada pemungut PPN, seperti instansi pemerintah, tetap memakai kode 02 atau 03.
Peran Zoho Books dan peran Coretax
Penting memisahkan dua hal. Zoho Books adalah sistem pembukuan: invoice, piutang, hutang, kas, bank dan laporan keuangan. Coretax adalah sistem DJP untuk menerbitkan faktur pajak dan melaporkan SPT. Saat artikel ini ditulis, kami tidak menemukan integrasi resmi yang menghubungkan Zoho Books langsung ke Coretax. Artinya, faktur pajak tetap diterbitkan di Coretax, dan tugas Zoho Books adalah menyediakan data yang lengkap dan konsisten untuk itu.
Hal yang perlu dicek di Zoho Books
1. Pengaturan pajak
Zoho Books memungkinkan Anda membuat tarif pajak sendiri. Untuk transaksi non-mewah, banyak bisnis memakai tarif efektif 11% dengan nama yang jelas, misalnya "PPN 12% (DPP 11/12)", agar nilai pajak di invoice sama dengan yang akan muncul di faktur pajak. Barang mewah, transaksi bebas PPN dan transaksi ekspor membutuhkan tarif atau perlakuan terpisah. Putuskan aturannya bersama konsultan pajak Anda sebelum konfigurasi.
2. Data pelanggan untuk faktur
Faktur pajak membutuhkan identitas pembeli seperti NPWP atau NIK dan alamat yang sesuai. Simpan data ini di field khusus pada catatan pelanggan, dan wajibkan pengisiannya untuk pelanggan yang membutuhkan faktur. Data yang lengkap sejak awal menghemat banyak waktu saat akhir bulan.
3. Alur dari invoice ke faktur pajak
Tentukan siapa yang menerbitkan faktur di Coretax, kapan, dan bagaimana nomornya dicatat kembali. Sebagian bisnis mengekspor data invoice dari Zoho Books lalu mengunggahnya secara massal sesuai format yang ditentukan DJP; bisnis dengan volume kecil menerbitkannya satu per satu. Simpan nomor faktur pajak di invoice Zoho Books agar keduanya bisa dicocokkan.
4. Multi-mata uang
Zoho Books mendukung invoice dalam mata uang asing dan mencatat selisih kurs. Untuk pajak, perhatikan kurs yang dipakai sesuai ketentuan yang berlaku dan pastikan nilainya konsisten antara pembukuan dan pelaporan.
5. Laporan dan rekonsiliasi
Buat laporan rutin yang membandingkan total PPN keluaran di Zoho Books dengan faktur yang diterbitkan di Coretax setiap bulan. Selisih yang ditemukan lebih awal jauh lebih mudah diperbaiki.
Bagaimana dengan PPh dan payroll
Pemotongan PPh dan penggajian juga memiliki aturan Indonesia sendiri. Bila Anda memakai aplikasi lain untuk payroll, rancang cara jurnal gajinya masuk ke Zoho Books, baik manual maupun lewat integrasi.
Ringkasan
Zoho Books dapat menjadi sistem pembukuan yang baik untuk bisnis di Indonesia, selama perannya jelas: pembukuan dan data yang rapi di Zoho Books, faktur pajak dan pelaporan di Coretax. Kami merancang alur ini bersama tim keuangan dan konsultan pajak Anda; lihat implementasi Zoho Books dan layanan finance dan akuntansi.
